Senin, 04 Juli 2011

Cerpen

SAHABATKU

Bahagianya aku mendengar Poppy bisa diterima di Perguruan Tinggi Negeri favorit di Jakarta, tempat yang selalu menjadi impiannya untuk mewujudkan cita – citanya, Poppy sahabatku sejak kecil, kami tinggal di komplek perumahan yang sama dan bersekolah di sekolah yang sama pula, aku bangga bisa bersahabat dengan Poppy, dia gadis manis yang cerdas, ramah, dan rajin, sejak kecil ia tinggal bersama neneknya di kota ku ini, ia dititipkan oleh orang tuanya yang bercerai ketika dia masih kecil, sungguh pengalaman yang pahit buatnya, diusianya yang masih butuh perhatian dan kasih sayang kedua orang tuanya, harus ia jalani tanpa semua itu.

Beruntung Poppy kecil mendapat limpahan kasih sayang dari neneknya yang begitu sabar dan memanjakan dia, tapi Poppy bukanlah anak manja yang selalu merengek untuk mendapatkan apa yang dia inginkan, ia selalu berusaha dengan kerja keras untuk mendapatkan apa yang dia inginkan, kadang aku sendiri merasa takjub melihat makhluk satu ini. Sejak kecil Poppy terbiasa bangun pagi – pagi sekali untuk membantu neneknya membuat makanan untuk dijual nenek didepan rumahnya, neneknya hanyalah seorang janda tua yang hanya menerima sisa pensiun dari Almarhum kakeknya yang meninggal ketika Poppy masih duduk di bangku SMP, dan nenek berusaha terus berjuang untuk kehidupannya dan cucu kesayangannya itu, Poppy pun sangat menyayangi neneknya itu, karena hanya nenek yang dia miliki, orang tua Poppy seakan-akan sudah melupakan bahwa dia mempunyai anak dan orang tua di kota ini, mereka seperti hilang ditelan bumi, tenggelam menikmati kehidupannya masing – masing. Poppy dan nenek tidak mau mengharap belas kasih dari orang lain, dan mereka selalu mensyukuri nikmat yang mereka terima, sungguh aku melihat dua orang tangguh yang patut aku kagumi, aku pun menyayangi mereka seperti keluargaku sendiri, orang tuaku pun menyayangi Poppy seperti anaknya sendiri, kadang ibuku suka membelikan kami baju yang sama, kamipun seperti anak kembar jadi-jadian, aku bahagia dengan keadaan dan kebersamaan kami ini.

Dua bulan sudah Poppy meninggalkan kota ini untuk kuliah di Jakarta, kangen rasanya ingin bertemu dia, tak banyak kabar yang aku dan neneknya terima dari Poppy. Kadang seharian aku dirumah nenek menemaninya sambil mengingat dan bercerita tentang tingkah polah Poppy yang ceria dan penuh canda itu, dulu ia selalu bercerita tentang keinginannya padaku, dia ingin menjadi orang sukses dan kaya raya, dia ingin membahagiakan neneknya, cita – cita yang bagus menurutku, dan aku selalu menggodanya dengan memanggil dia dengan sebutan “calon nyonya besar”, dia pun memanggilku dengan sebutan “anak mami”, hmm…kadang terlalu juga dia menyebutku seperti itu, tapi itulah Poppy hidup selalu dijalaninya dengan ikhlas dan ringan, seperti tanpa beban.

Pagi ini hari minggu, seperti biasa di minggu pagi setelah sholat subuh, aku bersiap – siap jalan santai ke taman dekat rumahku, sambil menikmati segarnya udara pagi dan sedikit cuci mata, ketika hendak keluar rumah aku dikejutkan oleh suara isak tangis ibuku, ibu menghampiriku dan memelukku erat, aku menjadi bingung dan panik melihat sikap ibu.

“ada apa bu ? kenapa ibu nangis kayak gitu sih ?” tanyaku dengan bingung ke ibuku, ibu semakin erat memelukku…sampai rasanya susah untuk bernafas.

“ayo dong bu cerita, jangan bikin aku bingung…” tegasku sekali lagi, dan aku berusaha menenangkan ibuku, dan ibu menjawab dengan terbata – bata

“Die..kamu..harus kuat ya…tadi ibu mendapat kabar, Poppy kecelakaan…” seketika aku terhenyak mendengarnya, dan berharap tidak terjadi apa – apa dengan sahabatku itu .

“trus bagaimana keadaan Poppy bu…” tanyaku mulai melemah, seakan aku tak sanggup menggerakkan mulutku lagi.

“bis yang dinaiki Poppy untuk pulang ke sini semalam tabrakan.. dan..penumpangnya banyak yang meninggal nak…termasuk Poppy” isak ibuku semakin menjadi.

“itu enggak bener kan bu ? ibu salah dengar kan ibu ?…” tanyaku lirih meyakinkan apa yang diucapkan ibu itu adalah kesalahan, dan berharap ibu meralatnya…”semalam Poppy hendak pulang kerumah nenek, dan menaiki bis naas itu,” lanjut ibu sembari menggenggam tanganku dan membelai rambutku, mengalirkan kekuatan untuk aku mendengar dan menerima kenyataan..

”ketika di puncak bis yang ditumpangi Poppy menabrak bis dari arah berlawanan dan masuk ke jurang….Poppy sempat di tolong dan dibawa ke rumah sakit, tapi nyawanya ga tertolong Die.. Poppy meninggal” ibu memelukku dan terisak, aku tak dapat berkata – kata, pandanganku mulai gelap…dan semakin gelap, bayangan ibu pun sudah tak dapat terlihat olehku…ketika sadar aku hanya bisa menangisi sahabatku tersayang.

Aku mulai sibuk dirumah nenek, membantu mempersiapkan peralatan dan menerima pelayat yang berdatangan kerumah nenek, untuk menyambut kepulangan sahabatku itu, kepulangan yang tak pernah kami harapkan, karena kami harus menyambutmu dengan air mata kesedihan, tak lama datanglah iringan kendaraan yang mengantar jasad sahabatku, tangispun pecah diantara pelayat, semua merasa kehilangan Poppy, gadis manis yang ramah, penuh canda, yang dimata kami hampir tak mempunyai cela, gadis yang selalu tegar menjalani hari – harinya, tidak pernah menyerah pada keadaan….

Kami hanyut dalam kesedihan ini, namun inilah kenyataan yang harus diterima, dengan iringan do’a, mengantar tidur panjangmu sahabat, membawa mimpi – mimpimu, cita – citamu dan semua harapanmu,…. kepulanganmu adalah kepulangan yang abadi, tak ada satupun dari kami yang bisa mengahalanginya. Banyak kenangan manis yang kau tinggalkan untukku, pelajaran dan perjalanan hidup yang kau lalui dengan ikhlas adalah pelajaran berharga buatku, selamat jalan sahabatku, kembalilah pada Sang Pencipta mu, disanalah kau akan menemukan kebahagiaan sejati, kau akan selalu menjadi motivasi dan inspirasi buatku, dalam menjalani hari – hariku, yang kembali sepi tanpa canda tawamu sahabatku, bagiku.. kau tetap akan hidup dihatiku “nyonya besar”ku….

Tidak ada komentar:

Posting Komentar